Sebuah Derita Penanggung Dosa

 


“Kalau saja aku tahu, akan seberat ini—kenapa pernikahan jadi bernilaikan ibadah?”

Kalimat itu sudah berulang kali berputar-putar di kepalaku. Entah berapa kali putaran dalam sehari, apakah melebihi lintasan bumi yang sibuk mengelilingi matahari atau bahkan lebih. Tapi, tetap saja semakin aku mempertanyakan, semakin pula jauh dari jawaban.

“Jadi, itu alasanmu mas, memilih untuk jomblo sampai sekarang?” Tanya Sekar, perempuan itu lama kuidamkan, sayangnya aku kalah start. Di saat ada kesempatan, otakku kembali disibukkan dengan pemikiran yang tak kunjung mendapatkan jawaban.

“Bukan jomblo! Tapi singgel!” Sergahku.

“Ahh! Kamu tu mas, ngelak. Intinya kan sama-sama belum laku!”

“Emangnya kamu fikir, aku ini dagangan. Cuma dihargai dari laku dan tidaknya. Aku ini manusia, Kar. Aku tahu kamu udah laku, tapi emang siapa yang jamin jodohmu panjang!”

JRENG!

Suara itu udah mirip sound effect di sinetron-sinetron yang kutonton. Sekar terdiam. aku tercekat. Mulai merasakan hawa yang tidak enak. Jangan-jangan…

“Aku itu gak nyangka kowe sejahat iki, mas! aku itu sudah menikah sama orang yang tepat! Orang yang berani mengambil sikap dan keputusan! Ora koyo awakmu, seng isone mung janji!” Ucapnya terbata-bata ditambah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Mati aku!” dalam hatiku. Dan benar—tak lama kemudian, Sekar beranjak pergi dengan isakan tangis khas sinetron yang pernah kutonton.

Lambe! Lambe! Kadang aku sendiri nggak tahu, kenapa lidah itu gak diciptakan oleh Tuhan agar bertulang saja. Setidaknya, kalau dia bertulang kan gak sering keplesetnya!” tuturku penuh kesal dan menendang bebatuan kerikil yang ada di depan mata.

***

“Hahahaha!” Terdengar suara tawa yang terbahak-bahak namun tak sejalan lurus dengan hatiku. Hatiku malah memberontak. Ingin sekali kujejali mulutnya dengan sandal jepit atau kaos kaki yang sudah sebulan tak kucuci.

“Ojo ngono ta!” Ucapku yang kesal kontan menimpuk Zaman menggunakan bantal. namanya, Zaman, dia sahabatku—kalau bahasanya orang-orang itu, dia friendshipku. Kami berteman sejak SMP, jarang berantem sampai sekarang. Tapi bukan berarti akur terus. Itu yang membuat banyak orang curiga sama aku dan Zaman. Banyak mengira kami ini, gak Normal! Tak perlu kujelaskan bukan, istilah gak normal yang disebut-sebut oleh orang dusun kayak kami. Tapi, semuanya langsung mental saat nasib mujur Zaman membuktikan bahwa dia seorang pria normal, menikah dan punya anak.

Sekarang, di usia kami yang sama–sama 27, Zaman tak seberuntung diriku. Atau sebaliknya bagi kebanyakan orang. jadwalnya sudah terkekang oleh istrinya yang bisa jadi sejam sekali telfon nanya, pulang jam berapa? Anakmu rewel! Atau bahkan alasan apapun yang biasa digunakan wanita agar lelakinya pulang. Ahh dasar wanita, paling bisa bermain kata.

“Lha terus maumu itu piye, Jok?” Tanyanya.

Iya, namaku Joko, khas banget menunjukkan karakter “jawa” atau malah mungkin ada benarnya apa kata orang, kalau nama itu doa. Makanya, aku joko terus.

“Ya gak gimana-gimana, lembeku gak sengaja ngomong pedes dan nyakiti Sekar.” Ujarku

“Lagi.” Tukasnya.

“Maksudmu opo?”

“Awakmu kan wes berulang kali nyakitin Sekar, saiki Sekar wes dadi bojone uwong liyo isih to larani!” ucapnya nujleb.

“Kamu tau gak to? Ucapamu itu seng luwih ngelarani aku!” ujarku yang semakin membuat bahakan tawanya berderai ke langit-langit kamarku. Dan untuk kesekian kalinya kutimpuk mukanya yang semakin terlihat nyebelin itu dengan bantal.

“Lagian, opo maning sih, Jok seng marakke awakmu mikir berulang kali buat menikah? Jare cinta mati karo Sekar. Tapi, diabaikan! Sampai Sekar punya suami, kamu seng kebakaran jenggot! Karepmu ki opo?” Tanyanya.

“Awakmu ki gak mikir ta? Di saat lelaki itu mengucapkan ijab qabul—itu ‘arsy nya Allah berguncang dengan hebat, saking sakrale perjanjian kuwi. Seng artine, kalau kita sebagai laki-laki ini, harus siap untuk menanggung beban dosanya si wanita, alias bojo!”

JDAAAARRR!!!

Lagi- lagi, sound effect muncul, kali ini lebih menyerupai petir yang menyambar.

“Ojo guyon, Jok!” Ucapnya sedikit kelu. Aku yakin, selama ini Zaman bisa jadi tidak tahu soal konspirasi tanggungan dosa yang mestinya dipikul sendiri-sendiri oleh setiap manusia yang sudah mencapai “kedewasaan”. Aku gak perlu menjelaskan toh, gimana standar kedewasaan itu? karena setiap orang pasti udah paham.

“Aku gak bercanda, Man! Kamu bayangkan aja, kalau aku jadi menikahi Sekar—kamu kenal, gimana Sekar, dia itu sholatnya males! Belum lagi soal rambutnya yang terurai berai. Asal kamu tahu ya, Man, satu helai rambut seorang istri yang dilihat sama lelaki yang bukan mahromnya itu satu kali cambuk buat suaminya!”

“Lah…Sekar? Jangankan berjilbab rapet, rambutnya aja terurai berai! Entah berapa kali cambukan yang mesti aku terima kalau menikahi perempuan itu!” Lanjutku.

Sedari tadi, Zaman terlihat diam—wajahnya mungkin sedikit pucat pasi membayangkan cambukan di akhirat yang bahkan kebayang di kepalaku pun tidak.

“Terus, piye karo bojoku?”

Lha, emboh!” Ujarku dengan penuh bangga berhasil membawa permainan menjadi aku tokoh utamanya.

“Alasanmu njomblo—mulai masuk akal, Jok!” Ujarnya yang kontan membuatku semakin geram.

“Aku ki wis ngomong, aku singgel! Bukan jomblo! Sendiri itu pilihanku, karena aku masih mikir, mampu gak aku ki bertanggung jawab? Mampu gak, aku ki menjaga perjanjian tanpa menanggung dosane calon istriku!”

Tepat saat itulah, telpon Zaman bordering. Yang ditelpon cuma jawab iya—iya. Lalu tak lama kemudian, memilih untuk pamit. Dalam hatiku bersorak gembira, tak ubahnya aku seperti setan yang senang saat membuat hati manusia was-was.

***

Tak lama, hanya selang dua bulan kemudian…

Aku masih dengan keberuntunganku menyandang gelarku sebagai seorang singgel yang telah berhasil membuat hati manusia was-was akan tanggung jawabnya menanggung dosa para wanita yang kerap kali kebanyakan dosa. Mungkin, sebentar lagi, mereka memutuskan untuk meninggalkan para wanita dan menyandang gelar yang sama denganku.

Seharian ini aku cengar cengir. Menunggu Zaman yang katanya mau mampir. Di kesempatan yang sama juga, aku dengar-dengar berita—kalau Sekar mau pulang kampung.  Dua bulan setelah pertemuan kami, memang—Sekar masih ikut suaminya. dan katanya, kali ini pulang sendiri, tidak sama suaminya lagi. kalian tahu apa yang ada di pikiran jahatku kan?

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumussalam!” Jawabku sembari menoleh dan menyaksikan Zaman dengan seorang perempuan nan cantik parasnya ditutupi oleh jilbab yang terulur menutupi dadanya. Aku sempat bengong. Tersering memang ini bukan yang terjadi. Ekspektasi yang tak ubahnya hanya angan-angan menyisakan sesaknya realita. Ku tak punya kawan.

“Lha awakmu ngopo kok bengong. Iki bojoku!” Ucap Zaman. Menyisakan anggukan santunku kepada perempuan yang digandeng Zaman. Sementara, lelaki itu menyerahkan gendongan anaknya kepada sang istri saat hendak mengobrol denganku.

Lapo awakmu? Ngowoh wae!

“Hooo! Aku ngerti, pasti kamu heran kenapa aku masih memutuskan untuk mengemban amanat menjadi seorang suami to?”

“Pasti kamu gak tega to, sama anakmu?” Sergahku.

“Ora! Ora ngono. Tapi—ucapanmu iku berbanding terbalik dengan rumus baru yang aku tahu—perceraian itu dibolehkan, tapi dibenci sama Allah! yo to?”

Aku hanya mengangguk pelan. Masih berusaha menyimak dan mencerna ucapannya.

“Ngapain dibolehkan, kalau ujung-ujungnya dibenci sama Allah? itukan sama aja dengan ngapain pernikahan disebut ibadah, kalau ujungnya disuruh nanggung dosa? Iku lak pertanyaan seng ganggu awakmu bertahun-tahun to?”

Lagi-lagi, aku mengangguk.

“Jok, hidup ini selalu memberikan sebuah konsekuensi. Ora ono seng bebas seko konsekuensi. Koyo awakmu seng milih Jomblo, konsekuensine yo atimu kesepian to?”

Asem! Lambemu kuwi pedes tenan!” Ujarku sembari menimpuk Zaman dengan apapun. Sementara, lelaki itu hanya tertawa terbahak mendengar ucapanku. Tepat saat itulah terdengar suara ketukan pintu.

“Yoo sebentar!” Ujarku. Tepat saat itulah, aku membuka pintu dan terkejut melihat kedatangan Sekar. Kali ini, dia datang dengan wajah yang berbeda, rambutnya yang dulu terurai lepas, kini tak ada. Karena tertutupi oleh kerudung, tidak panjang sampai menutup seluruh dada seperti istrinya Zaman, tapi Sekarku sudah berubah.

“Mas, aku mau ngasih undangan syukuran 4 bulanan kehamilanku. Dateng ya besok sore! Suamiku baru dateng besok pagi. Aku banyak cerita soal kamu ke dia—dan dia pengen banget kenal sama kamu. permisi mas.”

DEEENGGG!!!!

Comments